KulinerRamadan

Tak Hanya Di Kota, Pasar Wadai Ramadhan Hadir Pula Di Pelosok

DPRD Kota Banjarbaru

TERAS7.COM – Pasar wadai ramadhan yang menyajikan berbagai kuliner seperti kue atau wadai beragam jenis hingga lauk pauk untuk berbuka puasa sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Indonesia.

Rupanya tradisi menjual makanan untuk buka puasa bukan hanya monopoli masyarakat di perkotaan, tapi juga tersebar hingga pelosok.

Salah satunya pasar wadai ramadhan yang berada di Desa Bawahan Selan, Kecamatan Mataraman, Kabupaten yang dikunjungi Teras7.com pada senin sore (13/5).

Pasar wadai ini sendiri berada di tempat yang cukup strategis, terletak pinggir jalan Ahmad Yani yang bersimpangan dengan jalan menuju perkantoran PT. Perkebunan Nusantara XIII, tepat di seberang Kantor Desa Bawahan Selan.

Polres Kabupaten Banjar
Pasar wadai ramadhan di Desa Bawahan Selan ini akan mulai ramai usai sholat Ashar

Salah satu penjual di pasar wadai ramadhan ini, Mama Rizki (45) warga Bawahan Selan mengungkapkan pasar wadai ramadhan yang berdekatan dengan Mesjid Da’watul Hasanah ini sudah ada sejak 15 tahun yang lalu.

“Tiap tahun rutin ada pasar wadai disini. Saya sendiri sudah berjualan sejak pasar wadai ini ada,” ujar wanita yang sehari-harinya merupakan Ibu Rumah Tangga ini.

Mama Rizki sendiri menjual berbagai makanan berbuka puasa seperti kue bingka, lapis india dan wadai bakarat serta beragam hidangan utama mulai dari ayam bakar hingga sayur gangan.

“Saya sendiri bikin semua yang dijual ini. Jadi bikin mulai jam 2 dini hari hingga jam 2 siang. Lalu diantar ke sini dan dijual sampai hendak magrib. Begitu setiap hari,” tuturnya.

Lihat juga :  Banjar Kab FC Tumbang Atas Saputra FC, Wabup Banjar : "Tim Kami Kelelahan"
Mama Rizki, salah satu penjual di pasar wadai ini mengaku omset penjualannya perhari mencapai kurang lebih 4 juta rupiah

Ia mengatakan pasar wadai ini ramai dikunjungi oleh pembeli, terutama ketika setelah sholat Ashar mendekati waktu berbuka puasa.

“Berjualan di ini untungnya cukup lumayan. Sehari bisa mendapat keuntungan 4 juta, belum dipotong biaya modal. Tahun kemarin keuntungan bersihnya mencapai 35 juta rupiah selama satu bulan,” terangnya.

Walaupun mendapat untung yang cukup besar, Mama Rizki mengaku untuk berjualan di tempat tersebut dirinya dan penjual yang lain tidak mengeluarkan biaya untuk sewa lahan pada siapa pun.

“Kami jualan disini tidak dipungut biaya sewa, tapi kami berinisiatif untuk memberikan sumbangan sukarela ke mesjid,” ucapnya.

Usai sholat Ashar, pasar wadai ramadhan ini pun mulai diserbu oleh pembeli, salah satunya adalah Puspa (40), warga Desa Lima, Kecamatan Mataraman.

Puspa, warga Desa Lima ini menyempatkan waktunya ke pasar wadai ini untuk membeli makanan untuk berbuka ketika herada di Bawahan Selan

Ia sendiri mengaku hampir sering membeli makanan untuk berbuka di pasar wadai ini.

“Saya punya toko, setiap kali ambil barang dari penjual grosir di Selan, saya sempatkan beli makanan berbuka disini,” katanya.

Puspa mengungkapkan harga makanan untuk berbuka di pasar yang setiap tahun ia datangi ini cukup terjangkau.

“Malahan lebih murah. Jadi setiap ada pasar ramadhan saya sempatkan membeli disini. Makanannya juga enak, jadi tidak perlu repot masak lagi,” pungkasnya.

Rizki Saputera

Reporter - Seorang lelaki yang mencintai sejarah, hobi membaca dan menulis, menceritakan peristiwa yang membawa perubahan ke arah yang lebih baik menjadi sebuah cita citanya. Martapura adalah sebuah tempat tumbuh kembang, traveling menjadi sebuah tujuan. JAS MERAH (Jangan sekali kali Melupakan Sejarah)

Berita Lainnya

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali Ke Atas