Budaya

KSK Kembali Hadirkan Antologi Puisi Bersama

TERAS7.COM – Kindai Seni Kreatif (KSK) yang merupakan tempat berkumpulnya pegiat sastra dan wadah mengekspresikan seni, kembali memprakarsai kelahiran buku antologi puisi bersama yang mengusung tema ‘Sayur Mayur’.

Sebelumnya, beberapa waktu lalu, Kindai Seni Kreatif yang digagas oleh Sastrawan asal Banjarbaru, Ali Syamsudin Arsy bersama rekan-rekannya juga ‘membidani’ kelahiran buku antologi puisi yang mengangkat tentang Pegunungun Meratus.

Sama seperti buku ‘Hutan Hujan Tropis’ sebelumnya, dalam buku kumpulan puisi bersama ini juga diikuti oleh banyak penyair. Bahkan, bukan hanya yang berasal dari Kalimantan Selatan, tetapi juga diikuti oleh penyair dari luar daerah.

Asa, panggilan akrab Ali Syamsudin Arsy menerangkan kepada reporter Teras7.com, Minggu malam (22/9), bahwa sebelumnya tidak ada rencana/agenda untuk menerbitkan buku antologi puisi ‘Sayur Mayur’. Namun, kata Asa, terkadang ada juga ‘Pikiran Nakal’ untuk menggarap kumpulan puisi yang terinspirasi dari sentral sayuran di dekat markas besar Kindai Seni Kreatif (KSK).

Asa sedang berbincang dengan Julio Ginting tentang rekapitulasi akhir penerimaan puisi sayur mayur. Foto: Salim

“Mengapa kita tidak menulis dan membukukan puisi-puisi sayur mayur, bukankah itu sangat positif secara kesehatan dan juga ikut mempromosikan produk yang dihasilkan petani sayur,” kata Asa. Terkait soal pembiayaan untuk penerbitan, ia menjelaskan, buku puisi Sayur Mayur ini diterbitkan berdasarkan kerjasama/gotong royong para pengirim puisi tersebut.

Lihat juga :  Meriah, Pembukaan Menpora Cup di Padati Penonton

Di antara nama-nama penyair asal Kalimantan Selatan yang mengirimkan puisinya adalah Ariffin Noor Hasby (Banjarbaru), Andi Jamaluddin (Tanah Bumbu), Imam Bukhari (Balangan), Johansyah (Tanah Bumbu), Maria Roeslie (Banjarmasin), Muhammad Rahim (Banjarmasin), Imun Ansyah (Barabai) dan para penyair asal Kalsel lainnya.

Sementara itu, para penyair dari luar daerah Kalimantan Selatan yang mengirimkan puisinya, di antaranya adalah Badaruddin Amir (Sulawesi Selatan), Bambang Widiatmoko (Jogyakarta), Muhammad Lefand (Jember), Sahaya Santayana (Pontianak), Wahyu Priadi (Jakarta), Khoirul Mujin (Mojokerto), Sri Wahyu Utami (Mojokerto), dan penyair lainnya.

Salim Ma'ruf

Reporter - Salim Ma'ruf, seorang lelaki yang 24 tahun lalu lahir di Bumi Antaludin, Kandangan, yang terus belajar dan berproses tanpa mengenal kata finish, sampai maut memisahkan roh dan raga.

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali Ke Atas