Ekonomi

Balada Pelapak DVD di Era Daring

DPRD Kota Banjarbaru

TERAS7.COM – Peralihan musim dari era analog ke era digital memberikan pengaruh yang sangat signifikan dalam kehidupan sehari-hari. Tak terkecuali dengan kebiasaan orang ihwal mendengarkan musik.

Pada tahun 2000-an, generasi di masa milenium tersebut sangatlah akrab dengan yang namanya kaset maupun Compact Disk (CD) sebagai media untuk mendengarkan lagu dari musisi-musisi favoritnya. Kemudian, setelah era kaset dan Compact Disk (CD) ini, hadirlah masa Digital Versatile Disc atau yang lazim dikenal sebagai DVD.

Namun, seiring bertukarnya masa beralihnya musim, era DVD mulai menemui senja kala, seiring eksisnya pelbagai aplikasi layanan musik streaming, Youtube, dan sejenisnya. Sehingga hal ini juga berpengaruh kepada Pelapak DVD yang mengumpulkan pundi-pundi keuntungan dari hasil penjualannya.

Untuk mengetahui geliat Pelapak DVD bertahan di tengah ‘tsunami’ serba daring ini, Reporter Teras7.com berbincang-bincang dengan Aldi (29), salah seorang Pelapak DVD di Pasar Malam Martapura, Kamis (17/10) malam.

Polres Kabupaten Banjar
Satu buah kepingan DVD dibandrol dengan harga 8 ribu rupiah. Foto: Salim7

Aldi mengaku, pekerjaan menjual keping-keping DVD ini sudah dilakoninya semenjak tahun 2008. Ia menceritakan, pada tahun 2008 hingga 2009 merupakan ‘Masa Keemasan’, di mana dalam waktu tidak sampai sehari ia dapat mengantongi keuntungan hingga satu juta lebih.

Lihat juga :  Sasirangan Nayla, Wujud Cinta Pelestarian Budaya

“Pada masa tersebut, ulun (saya) bisa memperoleh keutungan dari 1 hingga 1,5 juta dari waktu sore sampai jam 10 malam,” kata ayah dari dua orang anak ini, dari matanya terlihat bahwa ia sedang mengenang kembali masa-masa tersebut.

Memasuki tahun 2010 hingga 2015, penghasilan yang diperolehnya dari hasil penjualan kepingan DVD, ujar Aldi, masih lumayan yakni berkisar antara 600 hingga 900 ribua-an dalam sehari.

Ketika Reporter Teras7.com mengedarkan pandangan ke dalam kios yang dikelola oleh Aldi, terlihat berbagai koleksi DVD tersusun rapi di atas rak yang telah ia sediakan, entah itu film maupun musik. Bahkan, di beberapa sudut terdapat tumpukan DVD yang warna sampulnya mulai memudar, tersebab di makan usia.

Meskipun kini penghasilannya dalam sehari tidak menentu dan tertatih-tatih ia bertahan dengan lapaknya di tengah gempuran yang serba online, Aldi tetap bersyukur. “ Alhamdulillah, ada saja rejekinya dan dapat menghidupi keluarga ulun (saya),” ucapnya sambil tersenyum.

Salim Ma'ruf

Reporter - Salim Ma'ruf, seorang lelaki yang 24 tahun lalu lahir di Bumi Antaludin, Kandangan, yang terus belajar dan berproses tanpa mengenal kata finish, sampai maut memisahkan roh dan raga.

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali Ke Atas