Kadinkes Banjar : “Kesadaran Masyarakat Menghindari Penularan Masih Rendah”

Kadinkes Banjar : "Kesadaran Masyarakat Menghindari Penularan Masih Rendah" 1
Diauddin, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar.

TERAS7.COM – Rumah Sakit Daerah Idaman (RSDI) Kota Banjarbaru telah mengumumkan pelayanan untuk pasien non Covid-19 ditutup sementara hingga batas waktu yang tidak ditentukan pada Sabtu pagi (4/7).

Melalui unggahan status Facebook milik RSDI Kota Banjarbaru, bagi masyarakat yang mengalami masalah kesehatan, pihak RSDI meminta masyarakat merujukan persoalan kesehatannya ke rumah sakit lain yang berada di lingkup Kota Banjarbaru.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banjar, dr. Diauddin saat ditemui awak media mengungkapkan pihaknya telah mengetahui informasi dari kota tetangga ini.

“Jadi informasi IGD RSDI Banjarbaru tutup memang mau tak mau akan mempengaruhi sistem rujukan di tempat kita. Dalam minggu ini, rujukan pasien di daerah kita agak terganggu karena semua ruang isolasinya sudah penuh. Karena itu jika ada masalah pada pasien harus keliling dulu cari rumah sakit yang kosong,” ujarnya.

Tapi untuk pasien gawat darurat akan tetap ditindaklanjuti walaupun sementara tetap diletakkan di IGD.

Diauddin menyebutkan berdasarkan edaran terbaru, semua rumah sakit baik milik pemerintah maupun swasta dihimbau untuk melayani pasien Covid-19 dan tak ada lagi pembebanan bahwa pasien Covid-19 hanya dilayani di rumah sakit rujukan.

“Misalnya di ruang isolasi IGD RSUD Ratu Zalecha sudah penuh. Kalau ada pasien yang dicurigai Covid-19 ingin masuk harus menunggu pasien yang ada pulang atau meninggal. Perlu dicatat yang penuh adalah ruang isolasi, sementara ruang lainnya kosong, tapi yang menjadi masalah memang pasien yang dicurigai Covid-19. Kalau ruang isolasi penuh, mau tak mau harus dirujuk ke rumah sakit lain. Setahu kami tinggal RS Anshari Saleh yang belum penuh, sementara ruang isolasi IGD rumah sakit lain sudah penuh,” bebernya.

Diauddin mengatakan pihaknya menunggu adanya 1 komando dan arahan dari pemerintah provinsi, jika memang urgen sebaiknya ditetapkan 1 rumah sakit khusus menangani pasien Covid-19 dan tidak melayani pasien lain.

“Tapi yang paling penting kita meminta kesadaran dari masyarakat sendiri. Rumah sakit adalah akhir, awalnya ada di masyarakat. Kebanjiran pasien di rumah sakit ini masih terjadi karena penularan di masyarakat yang masih tinggi. Sehingga berapa pun fasilitas yang disiapkan akan selalu penuh karena kesadaran di masyarakat untuk menghindari penularan masih belum baik,” sebutnya.

Rizki Saputera
Jurnalis - Seorang lelaki yang mencintai sejarah, hobi membaca dan menulis, menceritakan peristiwa yang membawa perubahan ke arah yang lebih baik menjadi sebuah cita citanya.Martapura adalah sebuah tempat tumbuh kembang, traveling menjadi sebuah tujuan.JAS MERAH (Jangan sekali kali Melupakan Sejarah)