‘Sekapur Sirih’ Cucu Tukang Cukur Dari Anak Tukang Becak Menjadi Calon Bupati Banjar

‘Sekapur Sirih’ Cucu Tukang Cukur Dari Anak Tukang Becak Menjadi Calon Bupati Banjar 1
H Saidi Mansyur, Calon Bupati Kabupaten Banjar.
‘Sekapur Sirih’ Cucu Tukang Cukur Dari Anak Tukang Becak Menjadi Calon Bupati Banjar 4

TERAS7.COM – H Saidi Mansyur pemuda asli Banua kelahiran Desa Sungkai Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan pada tanggal 5 Mei tahun 1987 merupakan anak bungsu dari pasangan H Masyur dengan Hj Norlatifah.

 

Saidi mengenyam pendidikan pertamanya di TK Harapan Mulia, berlanjut ke SD Negeri Kota 4, dan pendidikan menengah pertamanya dihabiskan di SMP 1 Banjarbaru, setelah lulus ia melanjutkan pendidikan sekolah menengahnya di SMAN 3 Banjarbaru, kemudian pindah dan lulus di SMAN 2 Banjarbaru.

 

‘Sekapur Sirih’ Cucu Tukang Cukur Dari Anak Tukang Becak Menjadi Calon Bupati Banjar 5

Sejak kecil, anak bungsu dari H Mansyur dan Hj Norlatifah ini lebih banyak dihabiskan masa kecil bersama sang kakak, Hj Mislani yang merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, yang mana sejak kala itu keluarga mereka sudah banyak merasakan asam garamnya kehidupan.

 

Sedangkan sang kakak kedua, H Adiem Mansyur yang merupakan anak kedua Haji Mansyur, memilih kembali ke kampung halaman orang tuanya di Desa Sungkai Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Banjar.

 

Saidi kecil sudah mengenal betul ilmu agama, karena sedari kecil Saidi sudah dididik untuk belajar mengaji oleh kakeknya yaitu, H Abdurrahman, yang mana kakeknya tersebut kala itu berprofesi sebagai seorang tukang cukur di Jalan Bina Karya RT 37 RW 7 Nomor 32, Kota Banjarbaru.

 

Neneknya bernama Hj Asmuni merupakan seorang penjual pisang di belakang bioskop yang ada di kawasan Pasar Banjarbaru dulu, yang mana lapak berjualannya berhadapan langsung dengan tempat cukur H Abdurrahman.

 

Sementara ayahnya yang dikenal dengan nama Haji Mansyur, kala itu masih berprofesi sebagai tukang becak di Pasar Banjarbaru, yang mana disela waktunya Haji Mansyur juga mengambil upah kuli panggul demi membantu perekonomian keluarganya.

 

sedangkan ibunya yang bernama Hj Norlatifah, dulu hanyalah seorang penjual pisang goreng di depan rumah.

 

Saidi merupakan orang yang mudah dalam hal berteman, itu bisa terlihat sejak di bangku pendidikan menengah pertamanya, Saidi sering membawa teman-teman ke rumahnya di Guntung Lua RT 07 RW 07 hanya untuk ditemani makan dan tidur.

 

Pada umur 24 tahun, Saidi memutuskan untuk menikahi perempuan yang bernama Hj Nur Gita Tiyas dan dari pernikahannya tersebut memberikan dua orang buah cinta mereka bernama Muhammad Sagi Nafis dan Ahmad Wijananda Saidi.

 

Kehebatan Saidi dalam dunia kerja tidak bisa dipungkiri, hal itu bisa dilihat dari awal dirinya memasuki dunia kerja pada tahun 2010, dia menjabat sebagai Manager di CV. Gunung Sambung, kemudian pada tahun 2013 sampai 2014, Saidi menjadi Direktur di MJU.

 

Kemudian, Saidi mencoba peruntungannya di dunia politik, dan hasilnya ia terpilih menjadi Anggota DPRD Kabupaten Banjar periode tahun 2014-2019.

 

Ditahun 2015, Saidi dipercayakan oleh PSSI Kabupaten Banjar untuk menjadi Bendahara. Ditahun yang sama, Saidi menjabat sebagai Anggota Komite Fairplay dan Tanggung Jawab Sosial PSSI Kabupaten Banjar, serta sebagai A’wan NU Nahdlatul Ulama Kabupaten Banjar.

 

Puncak karirnya, Saidi dipercayakan oleh masyarakat Kabupaten Banjar untuk menjadi Wakil Bupati Banjar periode tahun 2016 – 2021.

 

Merasa keinginannya untuk memberikan yang terbaik kepada masyarakat Kabupaten Banjar belum selesai, tahun ini dia memutuskan untuk ikut serta kembali dalam kontestasi Pilkada Kabupaten Banjar dengan mencalonkan diri sebagai Calon Bupati Kabupaten Banjar periode tahun 2020-2024.

‘Sekapur Sirih’ Cucu Tukang Cukur Dari Anak Tukang Becak Menjadi Calon Bupati Banjar 6
Sayyid Maulana Ahmad
Pemimpin Redaksi - Berpengalaman sejak tahun 2015 di dunia jurnalistik. Petualang, itulah gambaran dirinya. Sejak menjadi pelajar saja, dirinya sudah mengembara, dari Muara Teweh sampai Marabahan. Darah Bakumpai yang membuat ia kembali merantau ke Kota Banjarbaru. Bersikap logis dan realistis dalam melihat keadaan.