Pengamen Banjarbaru Turun Omset hingga 500 Rupiah per hari

Pengamen Banjarbaru Turun Omset hingga 500 Rupiah per hari 1

TERAS7.COM – Walau di tengah pandemi covid-19 yang hingga kini masih terus memakan korban, tidak ada pilihan lain bagi para pengamen untuk tetap bekerja mencari uang sekaligus menghibur masyarakat.

Seperti salah seorang pengamen jalan di Banjarbaru ini, yaitu Rommy Martin saat diwawancarai oleh teras7.com di salah satu warung kopi depan museum Lambung Mangkurat Kota Banjarbaru, Jum’at malam (12/06).

Ia yang akrab di panggil Romy (24) mengatakan, bahwa dimasa pandemi covid-19 pendapatan mengamen sangat turun drastis, bahkan beberapa malam lalu ia hanya mendapatkan 500 rupiah satu kali puranan Lapangan Murdjani Kota Banjarbaru.

“Sakit bang, beberapa malam lalu saya mutar ngamen di Murdjani cuman dapat 500 rupiah,” ungkapnya dengan nada miris.

Sebelum masa pandemi covid-19 masuk Kalimantan Selatan, penghasilan mengamennya bisa mencapai 200 ribu rupiah lebih.

“Kalau sebelum covid ini biasanya bisa dapat 200 ribu lebih bang,” ujarnya yang juga pengisi akustik di salah satu cafe di Banjarbaru.

Sementara ini, Romy melanjutkan, walaupun covid-19 masih melanda banjarbaru, tidak ada pilihan lain untuk bisa mendapatkan uang ia dan temannya harus tetap ngamen.

“Mau bagaimana lagi bang, cafe tempat saya biasa akustik buat tambahan pengasilan juga tutup, sampai hari ini sudah 4 bulan belum buka,” keluhnya.

Pengamen Banjarbaru Turun Omset hingga 500 Rupiah per hari 2

Walaupun pemerintah sudah melonggarkan gerakan aktifitas masyarakat, namun menurutnya untuk menjaga diri dan saling menjaga orang lain, ia dan teman-teman pengamennya tetap selalu mematuhinprotokol kesehatan, dengan tetap memakai masker, menjaga jarak dan tidak luoa selalu membawa botol kecil hand sanitizer di saku jaketnya.

“Kita juga jaga-jaga bang, tetap ngamen namun selalu memakai masker dan membawa hand sanitizer disaku, karena kan sering megang uang kalau dikasih orang” tungkasnya.

Sayyid Maulana Ahmad
Pemimpin Redaksi - Berpengalaman sejak tahun 2015 di dunia jurnalistik. Petualang, itulah gambaran dirinya. Sejak menjadi pelajar saja, dirinya sudah mengembara, dari Muara Teweh sampai Marabahan. Darah Bakumpai yang membuat ia kembali merantau ke Kota Banjarbaru. Bersikap logis dan realistis dalam melihat keadaan.